POLARISABILITAS
Pergerakan elektron
yang mengakibatkan dipol sesaat dalam suatu molekul akan bertambah besar
apabila molekul tersebut memiliki jumlah elektron yang semakin besar pula.
Pergerakan elektron yang mengakibatkan dipol sesaat dalam suatu molekul disebut
polarisabilitas. Jumlah elektron yang besar berkaitan dengan massa molekul
relatif (Mr) molekul tersebut, sehingga semakin besar Mr suatu molekul, maka
semakin besar polarisabilitasnya dan semakin besar pula Gaya Londonnya. Mudahnya
suatu atom untuk membentuk dipol sesaat disebut polarisabilitas.
Kemudahan suatu
molekul untuk membentuk dipol sesaat atau untuk menginduksi (mengimbas) suatu
dipol disebut polarisabilitas (keterpolaran) (Mulyono, 2006).
Polarisabilitas ini
berkaitan dengan massa molekul relatif (Mr) dan bentuk molekul. Pada umumnya,
makin banyak jumlah elektron, makin mudah mengalami polarisasi. Karena jumlah
elektron berkaitan dengan Mr, maka semakin besar Mr, semakin kuat gaya London.
Gaya dispersi
London ini termasuk gaya yang relatif lemah, karena interaksi yang terjadi
adalah antar molekul nonpolar. Contoh molekul yang mengalami gaya london
diantaranya: gas hidrogen, gas nitrogen, metana dan gas-gas mulia.
Semakin mudah
molekul mengalami polarisasi, semakin tinggi titik didih dan titik lelehnnya. Oleh
karena itu semakin besar Mr semakin besar titik didih dan titik lelehnya
(Syukri, 1999).
Molekul mempunyai
sifat polarisabilitas berbeda-beda. Misal, dua molekul propana saling menarik
dengan kuat dibandingkan dua molekul metana. Molekul dengan distribusi elektron
besar lebih kuat saling menarik daripada molekul yang elektronnya kuat terikat.
Misal molekul I2 akan saling tarik-menarik lebih kuat daripada molekul F2 yang
lebih kecil.
Dengan demikian
titik didih I2 akan lebih besar jika dibandingkan dengan titik didih F2.
Molekul yang mempunyai bentuk molekul panjang lebih mudah mengalami
polarisabilitas dibandingkan dengan molekul dengan bentuk simetris. Misal
deretan hidrokarbon dengan rantai cabang akan mempunyai titik didih lebih
rendah jika dibandingkan dengan hidrokarbon dengan rantai lurus. Normal butana
mempunyai titik didih lebih tinggi dibandingkan isobutana yang memiliki rantai
cabang (Mansdsjoerriah,
1993).
DAFTAR
PUSTAKA
Mulyono. 2006. Kamus Kimia. Jakarta : Bumi Aksara
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 1.
Bandung :
ITB.
Mansdsjoerriah,
Noer. 1993. Ikatan dan Struktur Molekul. Bandung : IPB.
materinya sangat membantu. namun, jika boleh saran akan lebih baik lagi jika dilengkapi dengan gambar sehingga lebih menarik dan lebih mudah di pahami. terima kasih
BalasHapusterima kasih atas sarannya kepada saudari ria
Hapusterima kasih atas postingannya, sangat bermanfaat :)
BalasHapusterima kasih atas sarannya kepada saudari yunia
Hapusterima kasih atas ilmu nya, semoga bermanfaat
BalasHapusterima kasih atas saran yang diberikan atas saudari intan
HapusTerima kasih pemaparannya, sangat bermanfaat :)
BalasHapusterima kasih atas sarannya kepada saudari dayah :)
Hapus