/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-9/ani878.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-9/ani878.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */

Minggu, 11 Desember 2016

POLARISABILITAS



POLARISABILITAS
Pergerakan elektron yang mengakibatkan dipol sesaat dalam suatu molekul akan bertambah besar apabila molekul tersebut memiliki jumlah elektron yang semakin besar pula. Pergerakan elektron yang mengakibatkan dipol sesaat dalam suatu molekul disebut polarisabilitas. Jumlah elektron yang besar berkaitan dengan massa molekul relatif (Mr) molekul tersebut, sehingga semakin besar Mr suatu molekul, maka semakin besar polarisabilitasnya dan semakin besar pula Gaya Londonnya. Mudahnya suatu atom untuk membentuk dipol sesaat disebut polarisabilitas.
Kemudahan suatu molekul untuk membentuk dipol sesaat atau untuk menginduksi (mengimbas) suatu dipol disebut polarisabilitas (keterpolaran) (Mulyono, 2006).
Polarisabilitas ini berkaitan dengan massa molekul relatif (Mr) dan bentuk molekul. Pada umumnya, makin banyak jumlah elektron, makin mudah mengalami polarisasi. Karena jumlah elektron berkaitan dengan Mr, maka semakin besar Mr, semakin kuat gaya London.
Gaya dispersi London ini termasuk gaya yang relatif lemah, karena interaksi yang terjadi adalah antar molekul nonpolar. Contoh molekul yang mengalami gaya london diantaranya: gas hidrogen, gas nitrogen, metana dan gas-gas mulia.
Semakin mudah molekul mengalami polarisasi, semakin tinggi titik didih dan titik lelehnnya. Oleh karena itu semakin besar Mr semakin besar titik didih dan titik lelehnya (Syukri, 1999).
Molekul mempunyai sifat polarisabilitas berbeda-beda. Misal, dua molekul propana saling menarik dengan kuat dibandingkan dua molekul metana. Molekul dengan distribusi elektron besar lebih kuat saling menarik daripada molekul yang elektronnya kuat terikat. Misal molekul I2 akan saling tarik-menarik lebih kuat daripada molekul F2 yang lebih kecil.
Dengan demikian titik didih I2 akan lebih besar jika dibandingkan dengan titik didih F2. Molekul yang mempunyai bentuk molekul panjang lebih mudah mengalami polarisabilitas dibandingkan dengan molekul dengan bentuk simetris. Misal deretan hidrokarbon dengan rantai cabang akan mempunyai titik didih lebih rendah jika dibandingkan dengan hidrokarbon dengan rantai lurus. Normal butana mempunyai titik didih lebih tinggi dibandingkan isobutana yang memiliki rantai cabang (Mansdsjoerriah, 1993).
DAFTAR PUSTAKA
Mulyono. 2006. Kamus Kimia. Jakarta : Bumi Aksara
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 1. Bandung : ITB.
Mansdsjoerriah, Noer. 1993. Ikatan dan Struktur Molekul. Bandung : IPB.

8 komentar:

  1. materinya sangat membantu. namun, jika boleh saran akan lebih baik lagi jika dilengkapi dengan gambar sehingga lebih menarik dan lebih mudah di pahami. terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas sarannya kepada saudari ria

      Hapus
  2. terima kasih atas postingannya, sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas sarannya kepada saudari yunia

      Hapus
  3. terima kasih atas ilmu nya, semoga bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas saran yang diberikan atas saudari intan

      Hapus
  4. Terima kasih pemaparannya, sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas sarannya kepada saudari dayah :)

      Hapus