/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-9/ani878.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-9/ani878.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */

Minggu, 06 November 2016

Gugus Fungsi



GUGUS FUNGSI
Reaksi kimia dari kebanyakan senyawa karbon adalah reaksi pada gugus fungsinya
Kita telah memusatkan perhatian pada rantai dan cincin hidrokarbon yang merupakan komponen penting dari setiap senyawa organik. Tetapi, dalam kebanyakan reaksi kimia yang melibatkan molekul organik, rangka hidrokarbon dari molekul secara kimia tidak bereaksi (lembam). Dengan demikian, reaksi alkana sangat terbatas. Pada umumnya kimia organik melibatkan substituen ini, yang biasanya mengandung oksigen, nitrogen, sulfur, atau fosfor, yang dinamakan gugus fungsi, yakni bagian suatu molekul yang berfungsi secara kimia.
Pada umumnya, kimia organik adalah kimia gugus fungsi. Dengan mengetahui faktor ini, kimiawan organik menggolongkan senyawa organik menjadi beberapa kategori, yang sesuai dengan gugus fungsinya. Lambang R digunakan untuk menggambarkan rantai atau cincin karbon yang membawa gugus fungsi. Ikatan ganda dua pada alkena dan ganda tiga pada alkuna reaktif secara kimia, dan dipandang sebagai gugus fungsi.




Tabel 1. Penggolongan senyawaan organik berdasarkan gugus fungsi
          Pada tabel 1 memuat gugus fungsi lain yang dibahas dalam buku ini. Karena sekarang anda belum mempelajarinya semua, rujuklah tabel ini jika menemukan gugus fungsi yang belum anda kenal.
          Berikut adalah petunjuk terakhir : Hal pertama yang harus dikerjakan oleh kimiawan organik jika melihat molekul baru yang rumit adalah mengidentifikasikan gugus fungsinya. Kalau gugus fungsi sudah dikenali dan kimiawinya diketahui, mereka dapat mulai meramalkan sifat fisis dan kimia senyawa baru tersebut (Wilbraham dan Michael; 1992).
          Penggolongan senyawa organik dapat dibedakan menurut gugus fungsi yang dikandungnya. Gugus fungsi (functional group) adalah sekelompok atom yang menyebabkan perilaku kimia molekul organik induk.
No
Struktur Gugus
Rumus Umum
Nama IUPAC/Trivial
Nama Gugus
1
−OH 
R−OH 
Alkanol/Alkohol
Hidroksil
2
−O−
R−O−R`
Alkoksi
Eter
3
     O
−C−H
        O
R−C−H
Alkanal /Aldehid
Aldehid
4
     O
−C−
         O
R−C−R`
Alkanon/Keton
Karbonil
5
     O
−C−OH
     O
R−C−OH
Asam alkanoat/karboksilat
Karboksil
6
     O
−C−O
       O
R−C−O
Alkil alkanoat/Ester
Ester
7
−NH2
R−NH2
Amina
Amin

        Alkohol mengandung gugus fungsi hidroksil, −OH. Etanol mempunyai penerapan tidak terbilang sebagai pelarut untuk bahan kimia organik dan sebagai senyawa awal untuk pembuatan zat warna, obat-obatan sintesis, kosmetik, dan bahan peledak. Etanol juga merupakan bagian dari minuman beralkohol. Etanol adalah satu-satunya jenis alkohol rantai lurus yang tidak beracun (lebih tepatnya, paling sedikit beracun) (Chang; 2005).
DAFTAR PUSTAKA


Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Edisi ke-3 Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Wilbraham, Antony C., dan Michael S. Matta. 1992. Pengantar Kimia Organik Dan Hayati. Bandung : ITB.

Gaya van der Waals



                                            GAYA VAN DER WAALS              
          Tarikan paling lemah di antara molekul secara keseluruhan dinamakan gaya van der Waals, yaitu menurut nama kimiawan bangsa Belanda, Johannes van der Waals. Dua gaya van der Waals yang utama adalah gaya dispersi dan interaksi dwikutub.
a.    Gaya Dispersi
Gaya dispersi, merupakan yang paling lemah dari semua interaksi molekul, beragam kekuatannya, bergantung pada ukuran dan bentuk molekul. Gaya ini diperkirakan timbul dari gerakan elektron yang cukup kuat untuk membuat brom yang nonpolar berada dalam keadaan cair dan iod dalam keadaan padat.
b.   Interaksi Dwikutub
Interaksi dwikutub merupakan interaksi yang dihasilkan dari tarikan antara molekul polar. Interaksi dwikutub jauh lebih kuat daripada gaya dispersi dan terjadi jika molekul polar tertarik satu sama lain.


Gambar 1. Molekul polar saling tarik melalui gaya van der Waals yang disebut interaksi dwikutub
Baik interaksi dwikutub antara molekul polar maupun tarikan antara ion bermuatan berlawanan timbul dari gaya elektrostatik, tetapi muatan pada molekul yang bersifat dwikutub hanya sebagian saja dari muatan ion. Interaksi dwikutub dalam air misalnya, berasal dari tarikan lemah sesama molekul air. Setiap ikatan O-H dalam molekul air sangat polar; karena keelektronegatifan oksigen yang besar, oksigen mempunyai sedikit muatan negatif; hidrogen mempunyai sedikit muatan positif. Molekul polar saling tarik, sehingga daerah positif dari satu molekul air tertarik pada daerah negatif dari molekul lainnya. Tarikan dwikutub antara molekul air ini sangat lemah jika disbanding dengan gaya lemah lain, yaitu ikatan hidrogen (Wilbraham dan Michael; 1992).


DAFTAR PUSTAKA 
Wilbraham, Antony C., dan Michael S. Matta. 1992. Pengantar Kimia Organik Dan Hayati. Bandung : ITB.